Tips Kameraman


1. Diskusikan dan prediksikan hal yang tidak terduga yang akan terjadi dengan team, tentang apa yang akan kamu liput terlebih dahulu

2.Rekamlah selama 10 detik gambar kosong / color bar untuk memberi batas sehingga mempermudah pencarian gambar ketika editing

3.Periksa set up audio, jangan lebih dari 0db. hal paling mudah dilakukan ialah dengan melihat audio grafik jangan sampai merah

4.Setting atmosfer / natural sound di channel 1 dan wawancara di channel 2h

5.Merekamlah dengan selektif, jangan ada gambar mubazir ato goyang dan jangan pernah ragu2. Disiplinlah dengan star,stop dan record serta biasakan edit by kamera

6.Diamlah ketika mengambil gambar karena audio membuat video menjadi tiga dimensi dan kamu membutuhkan suara suasana sekitar

7.Jika harus mengarahkan obyek, jangan mengarahkan sambil merekan. Tapi arahkan dulu bila perlu memberi contoh baru rekamlah. Agar kamu mendapat natural soundnya tanpa ada suaramu yang berisik

8.Tahan semua shoot antara 8 - 15 detik untuk mempermudah editing

9.Jangan mengulang gambar dengan obyek,komposisi dan angle yang sama.

10.Minimalis pergerakan kamera. Pergerakan kamera akan sangat indah jika dibarengi maksud dan motivasi. Contoh : panning untuk menunjukan luas bangunan

11.Mulailah dan akhirilah pergerakan kamera dengan still shoot 8 detik, untuk mempermudah editing

12.Merekamlah dalam sequence : wide shoot,medium,detail,variatif angle

13.Selalu gunakan tripod ketika merekam subyek yang diam

14.Selalu gunakan tripod ketika wawancara subyek yang sedang duduk

15.Jangan malas dekatilah obyek ketika mengambil gambar, minimalis zoom in karena gambar akan labil dan goyang

16.Jika subyek yang kamu wawancara melihat / sadar kamera, taruh dia tepat ditengah Close Up / Medium Close Up

17.Rubahlah angle dan perspektif seindah mungkin. Jangan perlakukan kamera seperti matamu

18.Jika subyek melihat reporter, eye level composition sangat bagus. Gunakan aturan "nose room" and " looking room" letakkan ujung hidungnya tepat di tengah kamera, jangan letakkan subyek di tengah dalam komposisi ini

19.Beritahu subyek supaya melihat reporter dan jangan pernah melihat kamera serta jangan membuat kontak mata selama merekam

20.Jika wawancara lebih dari satu subyek letakkan looking room yang berbeda antara satu subyek yang satu dengan yang lain

21.Sebagai gambar perkenalan ketika editing, rekamlah sequence perbincangan antara reporter dan subyek ( 5 - 8 angle )

22.Tebarlah pandangan jangan lengah waspadai setiap momen

23.Jadilah peramal dan prediksikan apa yang akan terjadi nanti

24.Untuk mendapat Depth Of Field yang sempurna, maksimalkan zoom in dan mainkan fokus

25.Buatlah sedikit efek untuk membuang kebosanan gambar. Change Focus antar satu subyek ke subyek yang lain, Efek Background menjauh / mendekat dari subyek : lakukan pergerakan track out sembari zoom in dan sebaliknya

26.Jangan ragu untuk mengambil gambar Extrem Close Up

27.Cobalah mengedit karena dengan begitu kamu akan tahu gambar apa yang mubazir dan mana yang kamu butuhkan


Posted on 03.03 by OMeN and filed under | 3 Comments »

Sejarah Editing

Pada saat lumiere mulai membuat film, editing belum menjadi bagian dari proses pembuatan film. Karena pada saat itu film-film lumiere hanya terdiri dari satu buah shot (single shot) dengan panjang durasi yang sama dengan kejadian sesungguhnya (real time). Tidak ada manipulasi waktu.

Melies adalah orang pertama yang membuat film dengan melalui proses editing. Editing yang dilakukannya masih sangat sederhana. Film pertamanya yang menggambarkan perjalanan orang ke bulan (a trip to the moon) hanya menggunakan editing untuk kesinambungan bercerita (cutting to continuity). Melies melakukan editing untuk menyambung tiap2 adegan yang hanya terdiri dari satu shot untuk tiap adegannya (sequence shot). Le Voyage Dans la Lune – A Trip to the Moon (1902).

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa editing terjadi apabila terjadi proses pemotongan dari banyak shot. Seiring dengan perkembangan jaman, editing juga mengalami perubahan. Sebuah film tidak lagi terdiri dari satu shot untuk tiap adegannya. Kita juga kemudian mengenal adanya tipe shot. Sehingga editing memegang peranan yang cukup penting dalam pembuatan dalam sebuah film. Dengan adanya editing, kita akhirnya mengenal adanya film time, waktu yang terjadi dalam film. Editing dapat melakukan manipulasi waktu dalam film. Sehingga waktu yang diciptakan bisa menjadi lebih singkat, atau malah sebaliknya menjadi lebih lambat. Sebagai contoh, sebuah kejadian 10 tahun bisa diceritakan hanya dalam waktu 10 menit. Begitu juga waktu yang hanya 10 menit, bisa diceritakan menjadi 1 jam. Meskipun tahapan editing dikerjakan oleh editor dan dilakukan setelah proses pengambilan gambar, pemikiran editing (editorial thinking) sudah harus dilakukan oleh semua tim kreatif jauh sebelum pengambilan gambar dimulai. Sehingga ketika semuanya sudah masuk ke meja editing menjadi materi yang siap untuk diedit.

Pengertian Editing

Editing adalah proses penyambungan gambar dari banyak shot tunggal sehingga menjadi kesatuan cerita yang utuh. Editor menyusun shot-shot tersebut sehingga menjadi sebuah scene, kemudian dari penyusunan scene-scene tersebut akan tercipta sequence sehingga pada akhirnya akan tercipta sebuah film yang utuh. Ibarat menulis sebuah cerita, sebuah shot bisa dikatakan sebuah kata, scene adalah kalimat, sequence adalah paragraph. Sebuah cerita akan utuh bilah terdapat semua unsur tersebut, begitu juga dengan film.

Seorang editor harus tahu bagaimana bertutur cerita yang baik. Dia bertanggung jawab dalam pengerjaan akhir sebuah film. Tanpa proses editing yang baik, sebuah produksi yang telah mengorbankan uang dan tenaga menjadi sia-sia. Memang benar, seorang editor hanya bisa menghasilkan film yang baik, sebaik materi yang dia terima. Hanya saja, seorang editor yang baik dan kreatif mampu menutupi semua kekurangan yang dialami ketika proses pengambilan gambar. Sehingga penonton tidak pernah tahu dimana letak ketidaksempurnaan itu.

Seorang editor dituntut untuk membuat keputusan setiap saat. Dia menentukan shot mana yang akan dipakai, berapa lama shot itu akan dipakai, kapan sebuah shot harus dipotong, bagaimana urutan shot yang disusun, dan sebagainya. Sebuah awal adegan bisa saja dimulai dengan Establish Shot sebuah tempat kejadian, tapi bisa juga dimulai dengan Close Up aktor. Sebuah materi yang sama bisa menghasilkan banyak kemungkinan. Apalagi dikerjakan oleh editor yang berbeda. Jangan ragu untuk bereksperimen dalam menyusun shot-shot tersebut.

Untuk membantu menentukan keputusan-keputusan tersebut, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Antara lain:

  1. Fungsional, menentukan sebuah shot berdasarkan fungsinya. Sebuah shot lebar (Wide Shot) mempunyai fungsi yang berbeda dengan shot padat (Close Shot). Untuk menekankan sesuatu biasanya digunakan shot padat.

  2. Proposional, menempatkan sebuah shot sesuai dengan proporsinya. Panjang pendek sebuah shot haruslah proposional. Begitu juga dengan penentuan titik potong (cutting point) dari sebuah shot. Penempatan shot yang terlalu panjang akan membuat penonton menjadi bosan, meskipun shot itu sangatlah baik. Begitu juga dengan penempatan shot yang terlalu pendek akan membuat penonton tidak menangkap pesan yang ingin disampaikan.

  3. Struktural, menentukan struktur susunan shot yang dibuat. Struktur editing tidaklah harus berurutan dari a sampai z. Bisa saja strukturnya dimulai dari b-c-a-g-d dan seterusnya. Ini juga dikenal sebagai juxtaposition.

Pertimbangan ketiga hal diatas agar tujuan dari pesan yang ingin kita sampaikan bisa tercapai dengan baik.

TIPS
Posisikan diri kita sebagai penonton setelah kita selesai mengedit sebagian atau seluruh film kita. Tanyakan pada diri kita apakah pesan yang ingin disampaikan bisa diterima atau tidak. Mintalah bantua orang lain untuk menonton hasil kita untuk membantu mengurangi penilaian kita yang terlalu subyektif. Tanyakan juga kepada mereka apakah pesan yang mereka terima, apakah sudah sama dengan pesan yang ingin kita sampaikan.

Editing Berdasarkan Media Rekamnya

  1. Editing dengan media seluloid. Editing dengan media seluloid secara fisik memotong dan menyambung pita seloluid. Biasanya menggunakan alat editing dengan merk STEINBECK dan MOVIOLA.

  2. Edting dengan media video. Editing dengan melakukan proses copy dari satu pita video ke pita video yang lain. Menggunakan minimal dua alat yang berfungsi sebagai pemutar dan perekam (VTR, Video Tape Recorder). Editing seperti ini juga dikenal sebagai editing Deck to Deck atau Tape to Tape. Karena menggunakan alat analog, kemungkinan terjadinya penurunan kualitas sangatlah besar. Selain itu, kemungkinan pita tergores (scratch) juga besar dikarenakan terlalu seringnya pita kita diputar.

Saat ini hampir semua proses editing dilakukan dengan menggunakan komputer. Semua materi terlebih dahulu ditransfer (capture/digitize) ke dalam komputer, baru kemudian dilakukan proses editing. Untuk ini diperlukan seperangkat komputer multimedia dengan video capture card (firewire card apabila menggunakan video digital) dan software editing. Saat ini banyak sekali software editing yang beredar di pasaran. Yang paling sering digunakan dalam dunia profesional untuk Digital Video (DV) adalah AVID XpressPro®, Adobe Premiere Pro® dan Final Cut Pro®.

Dalam pengerjaannya, editing dibagi menjadi 2, yaitu:

  1. Linear Editing

Editing dengan menyusun gambar satu per satu secara berurutan dari awal hingga akhir (seperti membentuk sebuah garis lurus tanpa putus). Sehingga seandainya terjadi kesalahan dalam menyusun gambar, kita harus mengulang kembali proses editing yang telah kita lakukan. Editing dengan proses seperti ini biasanya dilakukan dengan media video.

  1. Non-Linear Editing (NLE)

Editing dengan menyusun gambar secara acak (tidak berurutan). Dengan editng seperti ini, kita tidak lagi harus memulai editing dari awal dan berurutan hingga akhir. Kita bisa saja memulainya dari tengah, akhir, atau darimana pun. Tergantung dari materi mana yang telah siap terlebih dahulu. Dengan editing ini juga, memungkinkan kita untuk merubah susunan dan panjang gambar yang telah kita buat sebelumnya. Editing dengan proses seperti ini hanya mungkin dilakukan pada media seluloid dan tekhnologi digital (komputer). Karena editing dengan media film sudah sangat jarang digunakan dan pemakaian komputer untuk editing semakin sering kita temui, maka Non Linear Editing identik dengan Digital Video Editing. Editing yang akan kita gunakan adalah Non-Linear Editing

Editing Dokumenter


Secara Garis Besar, jenis film terbagi menjadi 2, yaitu fiksi (cerita) dan non-fiksi (dokumenter). Dalam pengerjaannya, khususnya di bidang editing, tiap-tiap film membutuhkan penanganan khusus. Sebuah film cerita lebih menekankan pada pengembangan plot cerita, sedang dokumenter lebih menekankan pada pemaparan sebuah tema.

Produksi film cerita biasanya jauh lebih bisa dikontrol daripada dokumenter. Skenario yang telah dibuat kemudian dipecah menjadi gambar-gambar yang siap di rekam (director shot/shot list). Kemudian semua kru mempersiapkan adegan yang akan direkam. Penataan kamera, lampu, warna, pemain dan sebagainya disiapkan untuk menerjemahkan skenario yang ada menjadi gambar (footage) yang siap diedit. Setelah itu editor bertugas menggabung potongan-potongan shot tersebut menjadi satu kesatuan cerita yang utuh sesuai dengan skenario yang telah dibuat.

Dokumenter secara umum bekerja dengan cara yang berlawanan. Tidak ada pemain disini, hanya subyek yang diikuti oleh pembuat film. Orang-orang sungguhan yang berada dalam suasana sungguhan, melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Penempatan kamera dan lampu hendaknya bukan menjadi hal yang menonjol. Peristiwa yang terjadi di depan kita tidak memungkinkan untuk kita melakukan itu. Peran sutradara menjadi tidak besar. Film dokumenter dibentuk di dalam editing. Ini menjadikan editor memiliki fungsi yang sangat penting dalam menyelesaikan pembuatan film dokumenter. Fungsi ini memberi kebebasan lebih bagi seorang editor dokumenter. Hanya saja yang perlu diingat adalah, dengan kebebasan juga tertadapat tanggung jawab yang besar.

Tahapan Editing

Film Fiksi

Keterangan:

  • Logging: Mencatat dan memilih gambar yang akan kita pilih berdasarkan timecode yang ada dalam masing-masing kaset.

  • NG Cutting: Memisahkan shot-shot yang tidak baik (NG/Not Good)
    Capture / Digitize: Proses memindahkan gambar dari kaset ke komputer

  • Assembly: Menyusun gambar sesuai dengan skenario

  • Rough Cut: Hasil edit sementara. Sangat dimungkinkan terjadinya perubahan.

  • Fine Cut: Hasil edit akhir. Setelah mencapai tahapan ini, susunan gambar sudah tidak bisa lagi berubah.

  • Visual Graphic: Penambahan unsur-unsur graphic dalam film. Seperti teks, animasi, color grading, dsb.

  • Sound Editing/Mixing: Proses editing dan penggabungan suara. Suara meliputi Dialog, Musik dan Efek Suara

  • Married Print: Proses penggabungan suara dan gambar yang tadinya terpisah menjadi satu kesatuan.

  • Master Edit: Hasil akhir film.

Film Dokumenter

Tidak seperti film fiksi yang memiliki skenario, seperti yang disebut diatas, film dokumenter baru bisa dibentuk di editing. Untuk itu seorang editor bersama sutradara dan penulis skenario diharuskan menonton semua hasil shooting. Setelah itu kita bisa memulai editing di atas kertas, menentukan bentuk yang kita inginkan. Sementara kita melakukan ini, proses capture / digitize bisa dilakukan.

Istilah Teknis Editing

Metode Editing

Terbagi menjadi 2, yaitu CUT dan TRANSISI

Cut
Proses pemotongan gambar secara langsung tanpa adanya manipulasi gambar

Transisi
Proses pemotongan gambar dengan menggunakan transisi perpindahan gambar

Optical Effect secara garis besar terbagi menjadi 3, al:

  1. Wipe, perpindahan gambar dengan menggeser gambar lainnya. Wipe meliputi banyak transisi, antara lain wipe, slide, dll.

  2. Fade, gambar secara perlahan muncul atau menghilang. Fade meliputi fade in, fade out dan dissolve.

  3. Superimpose, dua gambar atau lebih yang muncul menumpuk dalam satu frame.

Dengan adanya teknologi komputer, transisi tidak lagi didasari oleh perpindahan gambar. Kita bisa menggunakan transisi berdasar elemen/bagian dari gambar, baru kemudian disambung dengan bagian lain dari gambar tersebut sampai gambar tersebut menjadi utuh.

TIPS
Pergunakan transisi sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Penggunaan transisi secara berlebihan dan tidak tepat akan memberi kesan yang tidak baik bagi film kita.

Cut terbagi menjadi 2, al:

  1. Match Cut, penggabungan 2 shot yang saling berkesinambungan

  2. Cut Away, penggabungan 2 shot yang sama sekali berbeda

Dalam film fiksi, match cut secara mutlak wajib dilakukan. Match cut memungkinkan sebuah film yang terdiri dari banyak shot yang terpotong-potong, seolah-olah bagaikan rangkaian gambar yang mengalir tanpa terasa adanya potongan.

Hal-hal yang harus diperhatikan agar terciptanya match cut:

  1. Matching the look menyamakan arah pandang tiap2 subyek pada tiap2 gambar yang disambung.

  2. Matching the position menyamakan letak/posisi obyek pada tiap2 gambar yang disambung.

  3. Matching the movement menyamakan arah gerak subyek pada tiap2 gambar yang disambung.

Apabila kita mengabaikan ketiga hal diatas, maka akan terasa ada loncatan (jumping) dalam penggabungan gambar yang kita lakukan. Dengan memperhatikan match cut, maka akan tercipta adanya Continuity Editing.

Dalam film dokumenter, karena penanganannya berbeda dengan film fiksi seperti yang sudah di atas, continuity editing tidaklah mutlak dilakukan. Fungsi editing dalam dokumenter lebih mengarah ke cutting to continuity, editing dilakukan untuk kesinambungan bercerita, bukan kesinambungan antar shot.

Posted on 23.11 by OMeN and filed under | 2 Comments »

Membuat stabilizier sendiri

Lagi coba-coba neh, smoga berhasil.. Mengingat harga nya yang gila-gilaan agaknya kita harus cukup kreatif mengakalinya.
steadybig

Hand Held Camera - www.homebuiltstabilizers.com

Dalam produksi film pastinya alat semacam kamera tripod, dolly, jib, crane, dan steadycam adalah hal yang lumrah dan sering digunakan. Harganya pun jelas ngga’ murah, hanya beberapa rumah produksi besar dan rental equipment saja yang mampu membeli barang-barang tersebut.
Sebenarnya jika kreatif kita bisa membuat alat-alat tersebut dengan menggunakan bahan/material yang banyak dijumpai disekitar kita, walaupun untuk bentuk tidak mirip yang penting fungsi dari alat itu hampir sama jika dibandingkan dengan aslinya.

dsc_0247

Camera Jib - www.homebuiltstabilizers.com

Untuk cara pembuatannya sudah lama tersebar di internet, hanya mungkin kurang jeli dalam melakukan pencarian. Coba saja dicari pada mesin pencari dengan ditambahkan kata kunci homemade, contohnya “dolly homemade”.

Selain itu cara pembuatan alat bantu/perangkat tambahan untuk kamera video juga tersedia dalam bentuk ebook yang bisa diunduh disini. Dari bikin dolly, camera stabilizer, crane, jib, sampai camera car mount dijelaskan secara rinci dari bahan yang dibutuhkan sampai proses pembuatannya hingga dalam bentuk jadi.

@misteridigital.wordpress.com

Posted on 17.26 by OMeN and filed under | 1 Comments »

Perbedaan Antara Sensor Gambar CCD dan CMOS di Kamera Digital


Kamera digital menjadi barang umum mengikuti penu
runan harga jualnya. Salah
satu penggerak dibalik penurun
an harga adalah dengan diperkenalkannya sensor CMOS. Sensor CMOS sangat jauh lebih murah untuk dirakit dibandingkan sensor CCD.

Kedua sensor CCD (charge-coupled device) dan CMOS (complimentary metal-oxide semiconductor) berfungsi sama yaitu mengubah cahaya menjadi elektron. Untuk mengetahui cara sensor bekerja kita harus mengetahui prinsip kerja sel surya. Anggap saja sensor yang digunakan di kamera digital seperti memiliki ribuan bahkan jutaan sel surya yang kecil dalam bentuk matrik dua dimensi. Masing-masing sell akan mentransform cahaya dari sebagian kecil gambar yang ditangkap menjadi elektron. Kedua sensor tersebut melakukan pekerjaan tersebut dengan berbagai macam teknologi yang ada.

Langkah berikut adalah membaca nilai dari setiap sel di dalam gambar. Dalam kamera CCD, nilai tersebut dikirimkan ke dalam sebuah chip dan sebuah konverter analog ke digital mengubah setiap nilai piksel menjadi nilai digital. Dalam kamera CMOS, ada beberapa transistor dalam setiap piksel yang memperkuat dan memindahkan elektron dengan menggunakan kabel. Sensor CMOS lebih fleksibel karena membaca setiap piksel secara individual.

Sensor CCD memerlukan proses pembuatan secara khusus untuk menciptakan kemampuan memindahkan elektron ke chip tanpa distorsi. Dalam arti kata sensor CCD menjadi lebih baik kualitasnya dalam ketajaman dan sensitivitas cahaya. Lain halnya, chip CMOS dibuat dengan cara yang lebih tradisional dengan cara yang sama untuk membuat mikroprosesor. Karena proses pembuatannya berbeda, ada beberapa perbedaan mendasar dari sensor CCD dan CMOS.

* Sensor CCD, seperti yang disebutkan di atas, kualitasnya tinggi, gambarnya low-noise. Sensor CMOS lebih besar kemungkinan untuk noise.
* Sensitivitas CMOS lebih rendah karena setiap piksel terdapat beberapa transistor yang saling berdekatan. Banyak foton mengenai transistor dibandingkan diodafoto.
* Sensor CMOS menggunakan sumber daya listrik yang lebih kecil.
* Sensor CCD menggunakan listrik yang lebih besar, kurang lebih 100 kali lebih besar dibandingkan sensor CMOS.
* Chip CMOS dapat dipabrikasi dengan cara produksi mikroprosesor yang umum sehingga lebih murah dibandingkan sensor CCD.
* Sensor CCD telah diproduksi masal dalam jangka waktu yang lama sehingga lebih matang. Kualitasnya lebih tinggi dan lebih banyak pikselnya.

Berdasarkan perbedaan tersebut, Anda dapat lihat bahwa sensor CCD lebih banyak digunakan di kamera yang fokus pada gambar yang high-quality dengan piksel yang besar dan sensitivitas cahaya yang baik. Sensor CMOS lebih ke kualitas dibawahnya, resolusi dan sensitivitas cahaya yang lebih rendah. Akan tetapi pada saat ini sensor CMOS telah berkembang hampir menyamai kemampuan sensor CCD. Kamera yang menggunakan sensor CMOS biasanya lebih murah dan umur baterenya lebih lama.

Saat ini banyak kamera digital murah yang menggunakan sensor CMOS daripada CCD. Apa kelemahan dan kekurangan CMOS dibanding CCD? CMOS memiliki keunggulan dimana ongkos produksi murah sehingga harga kamera lebih terjangkau. Sedangkan CCD memiliki keunggulan dimana sensor lebih peka cahaya, jadi pada kondisi redup (sore/ malam) tanpa bantuan lampu kilat masih bisa mengkap obyek dengan baik, sedangkan pada CMOS sangat buram.


Posted on 22.53 by OMeN and filed under | 0 Comments »

Review Software Editing

Canopus EDIUS : Menurutku ini software editing profesional terbaik yang pernah dibuat "User Friendly" mungkin karena Grass Valley sang pencipta mengkhususkan diri / fokus dalam software video editing. Tampilannya yang sederhana but modern dengan warna layout yang soft membuat kita betah berlama2 di depan komputer, apalagi warna layout bisa dirubah sesuai keinginan kita. Ditambah layout monitor, timelime, effect dibuat terpisah ( seperti Macintosh ) so kita bisa mengatur komposisi layout seenaknya apalagi saat menggunakan dual monitor. Pengaturan warna, croping, audio bisa dengan sangat mudah dilakukan dengan effect2 yang lumayan banyak, bahkan effect yang telah kita modifikasi bisa kita save as preset ( jadi ga perlu buat lagi, tinggal drag ) . Untuk memudahkan editing kita bisa seenaknya mengganti shortcut standar sesuai keinginan kita. Edius salah satu software editing yang realtime tanpa ada loading conforming seperti Premiere dan export render yang super cepat. Kemampuan titling dan penambahan efffect sangat luar biasa ditambah efek transisinya yang sangat variatif. Pilihan export avi dengan banyak pilihan format ( terlengkap ) mulai mpeg, tga, hingga quicktime tanpa converter. Aplikasi multicam hingga 8 source video benar2 patut diacungi jempol, tanpa ada hang ato tersendat kita bisa menjadi Program Director memilih dan menata gambar hanya dengan "klik" dan semua itu otomatis. Banyak lagi kelebihan lain yang ngga sempat saya tuliskan. Agaknya software ini tidak terlalu populer, tapi saya yakin setelah mencobanya anda pasti jatuh hati....
Kelemahan : Untuk pemula mungkin terasa sulit karena tidak tersedia Tools Layout seperti software lain, cutting, triming semua basic shortcut
Saran : paling cocok untuk spot editing, wedding ato company profile
Berikut Tips & Trik bagi yang berminat mempelajari EDIUS lebih dalam.....

Final Cut Pro :Software besutan Mac OS ini benar2 memanjakan penggunanya yang ingin membuat karya menarik tanpa harus memutar otak dan memeras keringat. Bayangkan Mac OS mengobral efek ato template gratis plug and play. Begitu banyaknya pilihan efek ataupun transisi yang ngga ndeso, sehingga pemula pun sekejap menjadi profesional editor. Bagi yang terbiasa menggunakan Adobe Premiere pasti tidak sulit beradaptasi dengan software ini, karena cara kerja dan layout yang hampir sama. Ketika import file tidak ada sama sekali loading conform. Dengan spek standar Mac, software ini terbilang cukup bandel dengan akses export movie yang sangat cepat.
Kelemahan : Preview tidak realtime, kita harus selalu melakukan pre-render setelah melakukan perubahan atau penambahan efek.

Avid Expres Pro
: Software ini sangat mengutamakan ketepatan dan kecepatan, so untuk pengeditan sebuah berita, penggunaan software ini sangatlah cocok ( lebih mirip editing linier ). Effect video maupun transisi tidak tersedia banyak alias standar banget, konon software ini banyak digunakan dalam dunia perfilman kecuali holywood yang high budget. Kelemahan yang menonjol ialah ketika import materi, diperlukan waktu yang cukup lama untuk sekedar conform ditambah tools editing yang rumit. Cukup merepotkan jika kita tidak hapal dengan shortcut yang tersedia, namun jika shortcut udah diluar kepala dijamin kecepatan dan ketepatan tiada banding.

Adobe Premiere : Software pertama kali yang saya kenal dan menurut saya terbaik ( waktu itu ) mungkin bagi teman2 lain juga. Untuk pemula software ini cukup mudah karena terdapat tampilan Tools Editing jadi dengan mudah kita ingin memotong, menggabung, menambah dll. Namun hingga produk terbaru ( Adobe Premiere Pro CS 3 ) tampilannya hampir tidak ada yang berubah ( kuno, sorry :). Pemanfaatan multicam yang ribet dan memerlukan spek komputer yang tinggi untuk menjalankan aplikasinya.

Ulead : Untuk pemula

Sony Vegas : Unggul dalam touch up warna
Posted on 23.13 by OMeN and filed under | 1 Comments »

Tips membeli handycam / kamera video bekas

1. Cek kondisi fisik terutama, lensa, LCD, periksa apakah ada death pixel
2. Periksa fungsi2 utama kamera : zoom in/out, fokus, iris, filter, viewfinder
3. Open menu, cek lifetime kamera. Secara normal kondisi pemakaian standart kamera lebih kurang 500 jam dalam setahun.
4. Cara paling mudah untuk mengetes kondisi head kamera adlh : setting kamera pada posisi LP (Long Play) kemudian record selama 5 menit (record dan goyangkan kamera kanan kiri, atas bawah) kemudian play. Jika lancar berarti kondisi Head kamera cukup baik. Apabila terjadi scratch berarti kondisi Head sudah lemah. Kenapa LP, aku juga ga tau..hee..heee. But pengalaman ketika aku jual kameraku, sipembeli tau jika memang head kameraku lemah dan cara dia mengetesnya dengan merekam posisi LP ketika di play gambar scratch. Tapi sebaliknya jika direkam posisi SP (Short Play) it's OK.
5. Periksa juga kondisi audio antara Channel 1 / 2 , pentiingg !! karena audio lah yang membuat gambar kita kita 3 dimensi
6. Periksa output / input konektivitas kamera : dvi/firewire, RCA ke tv, microfon, USB dan perangkat penghubung yang lain
Posted on 07.16 by OMeN and filed under | 1 Comments »

PRINSIP - PRINSIP BERITA TELEVISI

A. FILOSOFI

Rumus dasar Berita Televisi adalah PICTURE + WORDS = TV. Visual ditempatkan sebagai faktor utama. Berarti pertaruhan Reporter dan Cameraman dalam meliput berita adalah memperoleh gambar yang berkualitas tinggi, ketajamannya, variasinya, maupun dinamikanya. Dengan kata lain, tugas Reporter dan Camerman adalah mencari beria yang menarik dengan gambar yang TAJAM, KAYA, dan HIDUP.

Hal itu bisa dicapai juka terdapat kesamaan Visi dan Misi orang-orang di lapangan. Maka berlakulah rumus COMMUNICATION + CORPORATE = RESPECT.

Hubungan yang harmonis antara Reporter dengan Cameraman menjadi syarat mutlak bagi pemburu berita televisi. Hubungan iru hanya mungkin juga antara keduanya terjadi diskusi menyangkut topik maupun cara penyajiannya nanti.

Reporter dan Cameraman adalah 2 profesi yang disatukan. Sebagai Profesional, masing-masing bertanggung jawab atas profesinya. Namun perbedaan itu tidak boleh menghalangi diskusi dan saling memberi masukan.

Keluhan Reporter bahwa Cameraman tidak bersedia mengambil gambar yang diinginkan atau keluhan Reporter bahwa tidak cocok dengan Cameraman adalah PERNYATAAN YANG DIHARAMKAN.

Jurnalis adalah profesi yang sangat menarik. Sebagai wakil pemirsa, Ia dituntut mampu tidak hanya menjadi perpanjangan mata dan telinga, namun juga perpanjangan perasaan penonton.

Oleh karena itu, sama sekali tidak dibenarkan bagi seorang Jurnalis mengkorupsi realita. Semua harus disajikan se-obyektif mungkin, baik data, gambar maupun suara dari suatu peristiwa. Satu-satunya toleransi yang dianugerahkan masyarakat bagi seorang Jurnalis adalah memilih bagian yang paling menarik dari suatu kejadian untuk dijadikan Unsur Pemikat berita yang mereka buat.

Para perintis Jurnalisme telah mematok rumus Piramida Terbalik sebagai rumus dasar struktur berita. Memanfaatkan toleransi yang diberikan masyarakat, maka rumus tersebut mengharuskan kita menempatkan Jantung Peristiwa di awal berita.

Sebagai Pengabdi Kebenaran, maka kebenaran berita yang kita buat merupakan pertaruhan yang tidak hanya menentukan kredibilitas kita, namun juga kelangsungan Stasiun Televisi kita. Pelanggaran terhadap hal itu harus dibayar mahal. CNN harus memecat Reporter andalannya, Peter Arnett, hanya karena lenggah mengecek kebenaran data-data.

Nilai berita adalah segala-galanya. Namun diatas semua itu, keselamatan jiwa tetap penting. Toleransi terhadap kualitas gambar hana diijinkan untuk berita-berita yang nilainya sangat tinggi. Kualitas gambar CNN pada kasus Pembajakan Pesawat di Afganistan sangat buruk, namun tetap ditayangkan karena nilai beritanya yang luar biasa.

PRINSIP

  1. Jurnalis itu pekerjaan yang menarik. Jadikan kesenangan bukan beban.
  2. Jaga hubungan yang harmonis antara Reporter dan Cameraman.
  3. Diskusikan topik dan cara penyajiannya.
  4. Reporter dan Cameraman harus saling menghargai dan menghormati atas dasar tanggung jawab profesi. Namun jangan jadikan hal itu, sebagai penghalang untuk salaing memberi masukan.

B. VISUAL

Sesuai prinsip TAJAM, KAYA, dan HIDUP, maka gambar-gambar Berita Televisi yang dianggap berkualitas tinggi adalah gambar-gambar yang mencerminkan dinamika atau gambar-gambar yang bergerak.

Gambar suasana Seminar, Ceramah, Makan-makan, Keterangan Pers adalah gambar gambar beku yang paling dibenci oleh televisi. Sebaliknya, gambar yang harus dikejar adalah hiruk-pikuk orang dipasar, kepanikan masyarakat yang dilanda kerusuhan, bencana alam, ledakan bom, kesibukan lalu-lintas, bandara, bentrokan Polisi dengan Demonstran, Polisi mengejar penjahat, dsb.

Sekalipun ditabukan, bukan berarti kita pantang meliput kegiatan-kegiatan seperti gambar seminar, ceramah, dan jumpa pers. Kebekuan gambar kegiatan semacam itu dapat dicarikan dengan memperkaya visual yang berkaitan dengan Topik yang dibicarakan.

Seminar tentang kemiskinan tentu akan lain jika gambar yang ditampilkan suasana kemiskinannya seperti orang-orang di kampung kumuh. Pengemis dan anak-anak jalanan atau gelandangan yang sedang mengais tong sampah, daripada menampilkan gambar peserta seminar yang terkantuk-kantuk. Jika mereka terkantuk-kantuk, apalagi pemirsa kita.

PRINSIP

  1. Hindari gambar-gambar beku. Kejar gambar-gambar yang dinamis.
  2. Cari gambar yang paling seru (plus NAT SOUND), jadikan unsur pemikat, tempatkan di awal berita. Ingat, pertaruhan di 8 detik pertama.
  3. Gambar harus tajam. Toleransi hanya untuk berita yang eksklusif dan nilai-nilai beritanya tinggi. (contoh : Gambar CNN saat pembajakan pesawat di Afganistan)
  4. Laporan tanpa gambar seperti Live By Phone nilainya sangat rendah untuk sebuah berita televisi, kecuali beritanya luar biasa.

C. NASKAH GAMBAR REPORTER DAN CAMERAMAN

Berita televisi pada dasarnya adalah gambar dan kata-kata yang diramu sedemikian rupa menghasilkan satu kesatuan utuh yang dinamakan berita.

Pemirsa tidak sekali-kali mau tahu bagaimana repotnya mendapatkan dan menyajikan berita itu. Mereka hanya tahu mendapatkan berita secepat mungkin, selengkap mungkin dan disajikan semenarik mungkin. Tuntutan cepat, lengkap, dan menarik ini menjadi pertaruhan Reporter dan Cameraman dan menjadi target seluruh pekerjaan mereka.

Sesuai rumus PICTURE + WORDS = TV, maka kunci utama untuk dapat memenuhi keinginan Pemirsa adalah pada kemampuan kita meramu gambar dan data yang kita peroleh.

Reporter harus tahu persis gambar apa yang diambil Cameraman. Sebaliknya, Cameraman harus memahami alur berita yang diinginkan Reporternya. Namun pada titik tertentu, naskahlah yang harus menyesuaikan diri pada gambar.

PRINSIP

  1. Di lapangan uapayakan Reporter tidak berjauhan dengan Cameraman, sehingga tahu persis gambar-gambar yang menjadi Jantung Peristiwa dan kelak dijadikan unsur pemikat Berita tersebut.
  2. Reporter dan Cameraman harus menyelamatkan target utama mereka yakni Berita dengan gambar yang bagus. Oleh karena itu, junjung kekompakan (jangan malas bantu membawa peralatan Cameraman, misalnya : Tripod).

D. LIVE REPORTING

Yang paling mendebarkan (sekaligus paling mengasyikkan) adalah saat kita harus melaporkan suatu peristiwa secara langsung.

Kunci utama keberhasilan sebuah Live Reporting adalah penguasaan materi berita itu. Seorang Reporter begitu tiba di tempat kejadian dituntut kepekaannya merekam dalam benaknya alur peristiwa yang kelak mewarnai berita yang dibuatnya.

Penonton tidak mau tahu, pokoknya Reporter harus tampil sempurna, nampak cerdas dan menguasai masalah. Seseru apapun peristiwa yang didapatkan, akan sia-sia jika Reporter yang melaporkannya berbicara “grathal-grathul” mirip monyet menelan kelereng. Kesan cerdas juga tiba-tiba sirna jika penampilan Reporter mirip petani tebu yang baru kalah judi. Oleh karena itu, tidak kalah pentingnya adalah kerapian.

Tom Mintier menyarakan bersikap tenang, kuasai masalah, tulis point-pointnya dan kembangkan improvisasi. CNN menerapkan standar yang cukup ketat untuk menentukan Reporter yang boleh muncul di layar dan siapa yang tidak. Keputusan itu ada di tangan Vice President Stasiun Televisi terbesar di Amerika Serikat tersebut.

Kesan cerdas dan menguasai masalah juga sangat ditentukan oleh kemampuan Reporter memilih kata-kata, merangkainnya menjadi kalimat yang menarik dan membawakannya dengan mimik yang pas. Apa jadinya jika berita kematian seorang Tokoh Ulama dibawakan dengan “pringas-pringis”.

Pembawaan menyangku Speed bicara dan intonasi bicara. Kesan monoton, datar, dan lamban akan menjadikan Reporter begitu mudah dicap bodoh dan tidak menguasai masalah. Sebaliknya, intonasi yang pas dan speed yang terjaga, sangat mudah mendatangkan kesan cerdas dan menguasai masalah.

PRINSIP

  1. Saat Live, Reporter harus tenang, kuasai masalah, tulis point-pointnya, dan kembangkan imrpovisasi
  2. Perhatikan penampilan, kita bukan orang dungu yang asal ngomong.
  3. Susun kalimat yang menarik. Bawakan dengan intonasi yang pas. Perhatikan speed bicara.
  4. Pengucapan kalimat-kalimat harus sempurna. Ingat seseru apapun berita kita, jadi sia-sia kalau cara melaoprkannya mirip monyet menelan kelereng.

E. CEK, CEK, DAN CEK LAGI

Sebagai penjaga gerbang kebenaran, harga diri seorang Jurnalis adalah pada kebenaran berita yang kita laporkan. Pelanggaran terhadap prinsip ini mendatangkan konsekuensi besar, bahkan tidak jarang harus ditebus dengan runtuhnya kredibilitas sebuah Stasiun Televisi.

CCN harus membayar mahal, ketika Reporter andalannya Peter Arnett keliru memberitakan seputar penggunaan Gas Syaraf pada perang Vietnam. Arnett mewawancarai seorang veteran yang sudah pikun. Ia membenarkan penggunaan gas syaraf, namun begitu ditayangkan, sang veteran tua itu tidak hanya membantahnya, ia bahkan tidak mengakui pernah berbicara dengan si Reporter. Arnett harus meninggalkan Stasiun Televisi yang telah dibesarkan dan membesarkannya selama ini.

Dalam keadaan lelah, kelengahan seringkali terjadi. Kasus CNN dapat menimpa siapapun dari Stasiun Televisi manapun. Oleh karena itu, cek dan cek sekali lagi merupakan sikap yang sangat dianjurkan. Untuk berita-berita yang sensitif seperti pernyataan Presiden, kematian Tokoh, dan sebagainya, Anda dianjurkan meminta Produser Anda mengeceknya sekali lagi.

Hindari nafsu berspekulasi apabila menyangkut kematian seseorang. CNN sekali lagi menelan kenyataan pahit, saat Reporternya di Jakarta memberitakan bahwa Dubes Filipina tewas dalam ledakan bom. Padahal sang Dubes ternyata selamat dan di rawat di rumah sakit.

PRINSIP

  1. Jangan berspekulasi menyangkut data-data.
  2. Minta Produser mengecek kebenaran data sebelum disiarkan.
  3. Ingat, berita yang keliru menjatuhkan kredibilitas kita.

Posted on 22.46 by OMeN and filed under | 0 Comments »

Ikut Menginjak Korban Zakat Maut


15 September 2008, pagi itu biasa aja, ngantuk ga jelas kebawa suasana kantor yang penghuninya pada puasa. Ampe siang ga ada liputan yah cangkruklah solusinya. "Kamu sama reporter berangkat ke Pasuruan, 16 korban meninggal rebutan zakat !" seru komandan. Siiapppp.. Tepat pkl 12.00 kita berangkat ke Pasuruan, terlambat sih karena kejadiannya pkl. 11.00, yah yg penting dapat berita. Pukul 14.00 kita sampai di tempat, kok lama? Gimana ngga, mulai Gempol-Bangil driver ma reporter tengok kanan-kiri cari klepon makanya jalannya pelannn.. ga pentinggggg !!.
Suasana masih panik, terlihat beberapa orang sepertinya kerabat korban menangis dan lainnya mondar mandir mencari tau dimana kerabatnya ditengah cuaca Pasuruan yang terik. Kamar mayat RS. Soedarsono Pasuruan yang hanya berukuran 5x3m dipenuhi 21 mayat ditata berjajar di bawah lantai. Gila my first time berada satu kamar dengan 21 mayat korban zakat maut, semuanya wanita. Wartawan diijinkan masuk bergantian ke dalam kamar mayat dan hanya diberi waktu 5 menit untuk mengambil gambar. Ga ada rasa takut waktu itu, di ruangan sempit penuh mayat gimana mo ambil gambar, susah banget cari angle. Akhirnya bersama wartawan lainnya berpencar mencari angle gambar. Yahh.. sory kalo kaki terpaksa ikut sedikit menginjak badan mayat... gimana lagi susah cari tempat berpijak broo.. Maap ya ibu2....

Metrotvnews.com, Pasuruan: Sebanyak 21 warga tewas terinjak saat pembagian zakat di Jalan Dokter Wahidin, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9). Puluhan lainnya pingsan. Sementara 13 korban luka dirawat di Rumah Sakit Soedarsono.
Acara ini diadakan dermawan bernama Haji Syaikon. Saat pembagian zakat, rumah Haji Syaikon diserbu ribuan warga. Pembagian zakat semula berjalan tertib. Namun tiba-tiba, ribuan warga saling dorong dan berdesakkan.
Wali Kota Pasuruan Aminurohman mengatakan tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu soal agenda pembagian massal zakat ini. “Jadi kami tidak mengantisipasi dengan menyiapkan aparat terkait,” ujar Aminurohman saat dihubungi Metro TV.
Aminurohman membenarkan hampir saban tahun diadakan penyaluran seperti ini. Penyelenggara sudah diimbau agar tidak menggunakan pola penyaluran massal. Pasalnya tahun lalu pola itu sangat menyengsarakan dan meyulitkan warga.

Posted on 18.40 by OMeN and filed under | 0 Comments »

Film Indie


dah lama banget produksi film ini. Capek !! Pasti.. Tapi lebih dari itu banyak pengalaman dan cerita dari produksi film ini. Bayangin kurang lebih 30 orang ikut dalam produksi ini dan dalam sebulan kita terus bersama kesana kemari, semua karena inisiatif tanpa ada uang lelah, asal bisa makan kita bekerja lagi. Pertengkaran pasti ada, itu hanya bagian dari perbedaan pendapat sampai cinlok antar kru, ada2 aja !!. Btw, semua itu terbayar film indie ini berhasil tayang di gedung bioskop MITRA 21 Surabaya ( sayang sekarang udah tutup ) :( saat event Festival Seni Surabaya. Terlebih lagi film indie mendapat sambutan yang luar biasa dari warga Surabaya khususnya pecinta seni dan sineas Surabaya. Salam indie .....

SINOPSIS

Dena (Stefanie) menjadi asing di keluarganya, hubungan kedua orang tuanya yang tidak harmonis membuatnya tidak lagi merasakan kehangatan di rumahnya yang mewah. Semuanya tampak beku dan menakutkan, sehingga dia menjadi sosok seorang gadis remaja yang rapuh dan selalu tenggelam dalam kesedihan.

Suatu ketika Dena bertemu Bima (Herdy) dan Otoy (Kurniawan) di taman kota. Bima adalah seorang cowok posesif yang sedang mengalami konflik dengan pacarnya yang seorang model. Rasa sayang dan khawatir yang berlebihan membuat pacarnya Maesa (Oka) tidak merasa nyaman lagi, sehingga sering terjadi pertengkaran di antara mereka berdua. Sedangkan Otoy adalah cowok dengan berat badan di atas rata-rata yang merasa hidupnya tidak pernah bahagia. Bagi Otoy tubuh gendutnya menjadi biang kesusahan dalam hidupnya. Susah mencari pacar, susah mencari pekerjaan dan selalu saja menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekitarnya.

Di saat yang lain Dena bertemu Oca (Mariska), teman SMA-nya yang sangat berobsesi menjadi seorang artis. Karena kepolosannya, Oca sering menjadi korban keisengan produser atau sutradara cabul. Peringatan dan larangan Dena kepadanya tentang itu justru membuat Oca menganggap Dena iri kepadanya. Hingga pada suatu saat kegadisannya terenggut oleh seorang sutradara bernama Ami (Denny).

Penyesalan, canda, tawa, tangis, sedih, dan marah silih berganti mewarnai kehidupan mereka sejak saat itu. Sampai akhirnya mereka masing-masing terpisah. Banyak perubahan hidup yang mereka rasakan. Hanya satu yang tidak berubah, dalam diri mereka masih ada keyakinan bahwa suatu saat mereka pasti akan bertemu kembali dalam waktu dan ruang yang berbeda.


video video
KITA Movie Part 1 ( download di sini )
Posted on 23.47 by OMeN and filed under | 0 Comments »

Untuk Sobat

Disinilah aku terbangun, ketika waktu membimbingku merindukan sosok sobat lamaku. Beberapa waktu yang lalu ketika aku benar2 sendiri hanya berteman kepulan asap dari sebatang tembakau yang kuhisap. Aku tahu aku tak bisa sendiri dan menghabiskan waktuku untuk bekerja dan bekerja. Aku hanya ingin meredam ambisiku, aku harus punya waktu meski untuk sekedar menikmati secangkir kopi dan mendentingkan gitar beserta temanku. Terkadang mereka menelponku hanya untuk bertanya kabar dan diakhir kalimat " nangdi ae rek sombonge ". Yah suueer ga ada maksud bro, menurutku hidup ini kesempatan dan kesempatan itu datang cuma sekali. Aku ingin maju dan membuat hidupku berguna setidaknya yang lalu biarlah berlalu. Bukannya hidupku ga berguna dengan kalian, sekarang kita harus menata hidup, waktu telah menggerus usia kita dan saatnya menjadi dewasa.Tenang aku ga pernah melupakan kalian, kita hanya dipisahkan kesibukan dan jalan masih panjang pasti kita akan bertemu di setiap persimpangan, saat itu kita berjabat bukan lagi sebagai teman namun lebih dari sodara :) . Aku ga pernah tahu seperti apa sekarang kalian begitupun sebaliknya, yang pasti ketika kita bertemu nanti, kita harus mengulang masa penuh tawa dan kebodohan itu. Salam, sukses untuk semuanya........
Posted on 18.55 by OMeN and filed under | 2 Comments »

Hidup Itu Misteri

Bukan hanya teka-teki, lebih dari itu hidup adalah misteri siapa yang bisa menebak !!!. Kita hanya bisa mengingat hari kemarin tapi ga bisa menebak hari esok bahkan hanya untuk memprediksi ...
Menjadi kameraman sama sekali bukan menjadi cita-cita, bahkan saya tidak pernah tahu apa yang menjadi cita-cita saya. Menggeluti dunia broadcast sebenarnya hanyalah kebetulan, ketika waktu itu usai kuliah saya berwiraswasta sehingga banyak waktu luang dan ingin mengambil program kuliah pendek. Melalui spanduk dijalanan saya iseng daftar dan menjalani kuliah. Disitulah pertama kali saya mengenal kamera, ternyata benda satu ini benar-benar menjadi mata, hati, dan mulut kita. Bayangkan benda ini bisa melihat, merekam dan bercerita melebihi kemampuan seorang sutradara ..... Menjadi kameraman televisi bukanlah sekedar menjadi pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, lebih dari itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar terhadap khalayak untuk menghadirkan suguhan yang apik kepada pemirsa di rumah. Terasa berat ketika dilapangan kita harus berpikir untuk mencari angle gambar terbaik, sementara kita juga tidak boleh kehilangan momen. Menurut saya kameraman news harus benar-benar menyampaikan informasinya melalui gambar-gambarnya tanpa ada yang terlewatkan. Setidaknya pemirsa tidak boleh lagi bertanya, pertanyaan apapun karena gambar kita kurang atau tidak mewakili informasi dari berita tersebut. Sebenarnya dari pertama saya mengenal kamera, saya tertarik mengabadikan sebuah momen kultur budaya atau alam dalam sebuah film dokumenter. Menurut saya disitulah kita bisa eksplorasi semua kemampuan kita dengan sentuhan-sentuhan artistik. Namun ketika saya terjun ke dunia jurnalistik, tidak mengecewakan karena disini saya benar-benar belajar bagaimana mengolah sebuah momen dan merangkumnya dalam berita, sehingga layak ditayangkan. Dalam dunia pemberitaan seolah-olah kita dipaksa untuk merekam gambar dengan komposisi-komposisi yang paten/standart namun bercerita dalam durasi yang singkat. Sebenarnya disinilah kita diuji bagaimana membuat serangkaian gambar dengan benar dan baik. Benar dalam pengoperasian kamera, pengkomposisian gambar serta sentuhan warna. Baik dalam urutan pengambilan gambar, sehingga gambar tersebut mampu bercerita meski tanpa naskah sekalipun. Menurut saya disinilah dasar/pondasi kita dibangun menjadi seorang kameraman, bagaimana memberi roh pada setiap visual...
Posted on 19.38 by OMeN and filed under | 0 Comments »

Televisi Masa Depan


HDTV ( High Definition Television ) merupakan media komunikasi baru dan teknologinya masih dalam proses penggarapan yang sangat ramai, terutama pada awal dekade ini. Secara singkat sejarah perkembangan HDTV dimulai oleh Jepang yang dimotori oleh pusat riset dan pengembangan NHK (TVRI/RRI-nya Jepang) pada tahun 1968, kemudian diikuti oleh Masyarakat Eropa sebagai pembanding dan akhirnya Amerika Serikat menjadi kompetitor yang harus diperhitungkan. Diperkirakan bahwa teknologi HDTV ini akan menjadi standar televisi masa depan, sehingga seorang peneliti senior dalam bidang sistem strategi dan manajemen Dr. Indu Singh meramalkan bahwa pasar dunia untuk HDTV ini akan mencapai 250 billion dolar pertahun (tahun 2010). Untuk itu pada dekade tahun 1990 ini negara-negara maju telah dan sedang berusaha agar bisa membuat teknologi tersebut sehingga bisa menguasai pasar dunia (posisi strategis). Karena itu maka sekarang telah bermunculan berbagai standar, yang satu sama lainnya saling berbeda. Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana sebaiknya bagi negara berkembang ? Sebelumnya marilah kita simak dulu pengertian dasar dari HDTV dan prasarat idealnya.
Apa itu HDTV ? HDTV dapat diartikan sebagai suatu sistem media komunikasi bergambar dan atau bersuara dengan tingkat kualitas ketajaman gambar (resolusi) yang sangat tinggi (hampir sama dengan kualitas film 35-mm/bioskop) dan kualitas suaranya juga menyerupai CD (Compact Disk). Dalam hal ini teknologi pemrosesan sinyal digital dan displai memberikan peran yang sangat penting. Diharapkan juga bahwa nantinya bisa melayani multi-bahasa dan multi media. Karena HDTV merupakan sistem komunikasi, maka seperti juga sistem komunikasi konvensional, untuk penyelenggaraannya memerlukan beberapa komponen dasar seperti pusat produksi (studio), pemroses/penyimpan. sistem transmisi dan pesawat penerima. Sistem Siaran Ideal Untuk dapat menyelenggarakan sistem siaran HDTV baik secara nasional maupun global yang ideal, diperlukan beberapa kriteria antara lain sebagai berikut :
- Penggunaan sinyal standar yang sama (di dunia /dalam satu negara)
- Biaya pesawat penerima yang murah /terbeli oleh khalayak
- Kompatibel dengan sistem yang sudah ada
- Bisa dihubungkan dengan media lain (multi-media)
- Dapat terjangkau secara meluas (aspek pemerataan)
Kompetisi Standar
Disamping aspek pasar yang menggiurkan, dalam sistem penyelenggaran HDTV yang global mempunyai dampak yang luas pada bidang budaya, sosial politik sampai pada pertahanan. Karena itu negara-negara maju telah berlomba agar sistem yang mereka kembangkan itu nantinya dapat dipakai sebagai standar dunia (global). Standar yang telah masuk dalam agenda rapat CCIR( badan internasional yang menangani standarisasi sistem penyiaran), baru dua yaitu MUSE (Jepang) dan HD-MAC (Eropa). Sementara itu Amerika Serikat yang diatur oleh FCC (Komisi Komunikasi) sedang ditegangkan untuk memutuskan satu standar dari masing-masing team (konsorsium) yang sedang berkompetisi. Karena kepentingan masing-masing negara yang berbeda-beda apakah CCIR bisa memutuskan pemakain standar yang tunggal ? Pengalaman dari sistem TV konvensional yaitu adanya PAL/SECAM di Eropa & ASEAN, NTSC di Amerika dan Jepang, rasanya sulit CCIR untuk bisa memutuskan pemakaian tunggal sistem penyiaran HDTV ini. Disamping itu juga ada badan standarisasi dibawah ISO yaitu MPEG (Kompas 25 April 1993, penulis yang sama) yang menangani standarisasi pengkodean dan pemampatan sinyal gambar bergerak. Untuk sinyal gambar dengan ketajaman tinggi (HDTV), sampai saat ini belum ada kesepakatan dan direncanakan diselesaikan pada tahun 1995.
Negara Berkembang
Setiap negara tentu saja menginginkan bahwa negaranya bisa maju dalam segala hal, termasuk teknologi HDTV. Bagi negara maju yang infrastrukurnya sudah lengkap yang menjadi masalah penerapan adalah kompetisi. Namun demikian bagaimana dengan negara berkembang yang infrastrukturnya masih terbatas (lihat idealisasi sistem siaran diatas) , apakah mau menciptakan standar sendiri ataukah mengikuti standar yang sedang dikembangkan oleh bangsa maju dan kapankah HDTV tersebut layak diterapkan?
Karena tingkatan teknologi HDTV yang ada sudah demikian maju ,kemungkinan membuat standar sinyal sendiri hanyalah membuang waktu dan dana. Namun demikian kalau mengikuti standar lain harus bagaimanakah? Alangkah bijaksananya kalau negara berkembang bisa mempelajari sistem HDTV ini baik dari segi produksi, transmisinya, pesawat penerima bahkan sampai industri pembuatan komponen-komponen tersebut. Karena tanpa bisa memproduksi , negara tesebut akan selalu bergantung. Pertanyaan berikutnya lalu standar mana yang harus dipakai ? MUSE, HD-MAC atau ADTV-nya Amerika. Untuk menjawab pertanyaan ini dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan idealisai sistem penyiaran diatas kiranya diperlukan strategi dan pentahapan yang terpadu. Karena teknologi HDTV tidak semata-mata teknologi televisi saja, maka demi keterpaduan sebaiknya di dalam pengkajian , maupun pengembangannya dilakukan oleh beberapa instansi dan industri yang terkait, seperti Telekomunikasi (TELKOM), Perguruan Tinggi, Pengkajian Teknologi (BPPT,LIPI), Industri elektronika (INTI, LEN,National, Elektrindo) , Kementrian Industri dan Perdagangan (Indag), dsb-nya. Sebagai contoh keterpaduan yang dilakukan di Jepang untuk pengembangan industri televisi yang dimulai dekade 50. Dengan dimotori oleh Pusat Riset dan Pengembangan NHK, Jepang memaksa industri-industri dalam negeri (SONY, Matsuhita, dll) untuk bisa memproduksi Televisi dan komponen terkait dengan orientasi mula pasar dalam negeri. Dengan dilaksanakan siaran secara langsung melalui media televisi upacara pernikahan kaisar (emperor) Akihito pada tahun 1959, meledaklah industri televisi di Jepang . Akhirnya seperti kita ketahui dengan baik bahwa Jepang telah bisa merajai teknologi televisi dan pasar dunia. , bahkan telah berhasil menayangkan program HDTV 8 jam sehari (mulai 25 Nopember 1991).
Yang menjadi harapan Jepang selanjutnya adalah bahwa pasaran Hi- Vison-nya (HDTV) akan meledak pada pernikahan mahkota berikutnya Naruhito dengan Masako Owada pada bulan Juni ini. Namun ini masih menjadi pertanyaan karena harganya masih mahal (1.0 juta yen), sehingga
sampai akhir Mei ini jumlah pesawat penerimanya baru sekitar 10.000. Para peneliti Jepang sedang berusaha habis-habisan untuk bisa mengeffisienkan komponen IC-nya sehingga diharapkan harganya menjadi murah. Contoh lain adalah Korea Selatan, mereka tidak terburu-buru mengadakan penyelenggaraan-nya disaat standar belum mapan, namun yang mereka kejar adalah bagaiamana memproduksi HDTV untuk bisa di ekspor, sehingga mereka mengirimkan ahli-ahli-nya yang bisa membu at HDTV ke Jepang , Eropa, Amerika. Kegiatan ini adalah merupakan konsorsium dari pemerintah dan industri-industri terkait seperti Golden Star, Samsung , Daewo, Korean Telocom dsb-nya. Proyek pengembangan produksi HDTV di Korea ini dimulai sejak tahun 1989, dengan biaya 100 milyar won, 60 prosen diantara-nya dikeluarkan dari kocek pemerintah. Target yang mereka harapkan adalah, konfigurasi dasar
(prototipe) akan selesai dilaksanakan pada tahun 1993, sedangkan secara ambisius pada tahun 1995 nanti bisa membuat produksi secara masal. Kelihatannya sangat netral dan beralasan sekali ,saran seorang mantan peneliti dari NHK yang sekarang menjadi guru besar di salah satu perguruan tinggi di Jepang, yang menyatakan bahwa kalau negara berkembang ingin mengembangkan sistem siaran HDTV, maka yang perlu dibenahi dulu antara lain adalah , perbanyaklah ahli elektronika (pendidikan) dan yang terkait sehingga bisa membuat , menjalankan dan memasarkan industri elektronika secara mandiri. Menurut beliau kalau ini dikerjakan mulai sekarang dengan kerja keras (Gambate /bahasa Jepang), mudah-mudahan penyelenggaraan sistem siaran HDTV ini bisa dilaksanakan dalam kurun 10 tahun yang akan datang.
Posted on 08.42 by OMeN and filed under | 3 Comments »

Tips Menjadi Kameraman TV

1. Raih dulu gelar S1 mu ( jurusan apapun ), karena saat ini hampir seluruh media televisi menjadikan gelar S1 menjadi syarat utama penerimaan karyawan. Disamping itu akan menunjang juga gaji yang akan kamu terima serta mempermudah jenjang karir anda. :)
2. Pelajari pengoperasian kamera terutama fungsi - fungsi nya.
3. Hafalkan dan pahami dasar - dasar fotografi termasuk angle komposisi, ukuran shot dan berbagai istilah broadcasting.
4. Berlatihlah sesering mungkin merekam suatu visual dalam sebuah sequence.
5. Percayalah jika poin 2 - 4 telah anda kuasai anda telah siap terjun ke dunia pertelevisian.
6. Make A wish
Posted on 19.49 by OMeN and filed under | 6 Comments »

Istilah - Istilah Broadcasting

Audio Visual : Sebutan bagi perangkat yang menggunakkan unsur suara dan gambar.
Art Director : Sebutan bagi pengarah seni artistik dari sebuah produksi.
Asisten Produser : Seseorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya.
Audio Mixing : Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle : Sudut pengambilan gambar.
Animator : Sebutan bagi seseorang yang beprofesi sebagai pembuat animasi.
Audio Effect : Efek suara.
Atmosfir /Ambience : Suara natural dari objek gambar.
Broadcasting : Proses pengiriman sinyal ke berbagai lokasi secara bersamaan baik melalui satelit, radio, televisi, komunikasi data pada jaringan dan lain sebagainya.
Broadcaster : Sebutan bagi seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran.
Background : Latar belakang.
Blocking : Penempatan objek yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Bridging scene : Adegan perantara diantara adegan – adegan lainnya.
Back Light : Penempatan lampu dasar dari sudut belakang objek.
Rundown : Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara.
Bumper In : Penanda bahwa program acara TV dimulai kembali setelah iklan komersial.
Bumper Out : Penanda bahwa program acara TV akan berhenti sejenak karena iklan komersial.
Credit Title : Urutan nama tim produksi dan pendukung acara.
Chroma Key : Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai kebutuhan foreground dan background.
Cutting on Beat : Teknik pemotongan gambar berdasar tempo.
Teaser : Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena ada jeda iklan komersial.
Cut : Pemotongan gambar.
Cutting : Proses pemotongan gambar.
Camera Blocking : Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Crazy Shot : Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan.
Compotition : Komposisi.
Continuity : Kesinambungan.
Cross Blocking : Penempatan posisi objek secara silang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Crane : Katrol khusus untuk kamera dan penata kamera yang dapat bergerak keatas dan kebawah.
Clip On : Mikrofon khusus yang dipasang pada objek tanpa terlihat.
Casting : Proses pemilihan pemain lakon sesuai dengan karakter dan peran yang akan diberikan.
Desain Compugrafis : Rancangan grafis yang digambar melalui tekhnologi komputer.
Durasi : Waktu yang diberikan atau dijalankan.
Dissolve : Tekhnik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera.
Depth of Field : Area dimana seluruh objek yang diterima oleh lensa dan kamera muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh jarak antara objek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop.
Dialogue : Percakapan yang muncul dalam adegan.
Dramatic Emotion : Emosi gambar secara dramatis.
Dubbing : pengisian suara / narasi .
Editing : Proses pemotongan gambar.
Ending Title : Urutan nama yang dicantumkan pada akhir movie.
Establish Sho
t : Gambar pengenalan yang natural dan wajar.
Focus : Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati objek aslinya.
Final Editing : Proses pemotongan gambar secara menyeluruh.
Floor Director : Seseorang yang bertanggung jawab membantu mengkomunikasikan keinginan sutradara, dari master kontrol ke studio produksi.
Filter Camera : Filter yang digunakan untuk kamera.
Footage : Gambar – gambar yang tersedia dan dapat digunakan.
Foreground : Latar depan.
Hunting Location : Proses pencarian dan penggunaan lokasi terbaik untuk syuting.
Headset : Digunakan untuk dapat mendengarkan suara sutradara.
Hand held : Tekhnik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod.
Intercut : Gambar penghubung antar sequence satu ke yang lain.
Jumping Shot : Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan.
Juncta Position : Kondisi dimana latar belakang menjadi satu dengan obyek dan sangat mengganggu.
Jimmy Jib : Katrol kamera otomatis yang digerakkan dengan remote.
Job Description : Deskripsi tentang jenis pekerjaan.
Jeda Komersial : Saat penayangan iklan komersial diantara acara televisi.
Job Title : Penamaan jabatan pada pekerjaan.
Kreator : Sebutan bagi seseorang yang menciptakan karya kreatif.
Lighting : Penataan cahaya.
Lighting Effect : Efek dari penataan cahaya.
Lensa Wide : Digunakan untuk memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Lensa Super Wide : Digunakan untuk sangat memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Master Control : Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada produksi untuk siaran live show maupun recorded.
Main Object : Target pada objek utama.
Monitor : Digunakan untuk memantau gambar.
Master Video : Video utama berisikan rekaman acara televisi yang siap untuk ditayangkan maupun disimpan.
Multi Camera : Sistem dari tata produksi audio visual yang syuting secara bersamaan dengan menggunakan sejumlah kamera.
Master Shot : Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan saat melakukan editing.
Noise : Gangguan pada sirkulasi signal audio maupun video yang mengganggu program acara.
News Director : Direktur pemberitaan yang bertanggung jawab atas seluruh isi pemberitaan yang disiarkan secara aktual berdasarkan fakta.
Off Line : Proses editing awal untuk memilih gambar terbaik dengan time code dari berbagai stock shot sesuai dengan kebutuhan adegan. Hasil dari gambar tersebut ditransformasikan dalam bentuk workprint dengan EDL (edit decision List).
On Line : Proses akhir editing untuk menyempurnakan, mempercantik dan memperindah gambar setelah melalui proses off line.
Opening Scene : Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Biasanya adegan ini dikemas kreatif dan menarik untuk mendpatkan perhatian penonton.
Opening Shot : Komposisi sudut pengambilan gambar pada awal adegan atau acara yang dirancang khusus untuk menarik perhatian penonton.
OB Van : Outside Broadcasting Van, mobil khusus yang membawa perangkat tekhnis penyiaran audio dan video untuk memproduksi program diluar studio. Dapat juga digunakan untuk master control bagi siaran langsung.
Over Exposed : Kondisi dimana pencahayaan terlalu terang.
Property : Berbagai aksesori.
Program Directing : Penyutradaraan program televisi.
Programming : Tekhnik penyusunan program acara televisi yang ditayangkan secara berurutan.
Praproduksi : Berbagai kegiatan persiapan sebelum pelaksanaan produksi dimulai.
Paskaproduksi : Proses penyelesaian akhir dari produksi.Biasanya istilah ini digunakan pada proses editing.
Produser : Pimpinan produksi yang bertanggung jawab kepada seluruh kegiatan pengkoordinasian pelaksanaan praproduksi, produksi sampai paskaproduksi.
Rating : Perhitungan secara statistikal untuk mengukur tingkat popularitas program acara televisi terhadap penonton.
Rundown : Susunan isi dan alur cerita dari program acara televisi yang dibatasi oleh durasi, jeda komersial, segmentasi, dan bahasa naskah.
Run Through : Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara televisi yang disesuaikan dengan urutan acara sesuai dalam rundown.
Reportase : Sebuah laporan perjalanan atau liputan lapangan yang digunakan untuk mendukung data – data aktual dan faktual.
Retake : Pengulangan pengambilan adegan gambar.
Shot : Ambil Gambar.
Simply Shot : Gambar yang diambil dari sudut yang mudah.
Sequence : satu rangkaian gambar yang terdiri dari berbagai angle dan ukuran shot yang menggambarkan suatu kejadian
Stand By : Komando akhir yang menunjukkan bahwa seluruh komponen produksi telah siap untuk melaksanakan syuting.
Stock Shot : Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk dijadikan pilihan pada saat gambar gambar tersebut memasuki proses editing.
Suspense : Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan – adegan yang menegangkan dan mengundang rasa was was bagi penonton.
Sound : Penataan suara.
Sound Effect : Efek suara yang diciptakan atau digunakan untuk mendukung suasana dari adegan.
Steady Shot : Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak, yang dapat dinikmati dengan posisi diam.
Switcher : Istilah populer bagi perangkat tekhnis untuk memindah-mindahkan pemilihan gambar dari berbagai stock shot maupun input kamera. Alat ini digunakan untuk syuting multi kamera.
Switcherman : Seseorang yang bertugas melaksanakan proses pemindahan gambar sesuai dengan komando sutradara.
Streaming : Proses pengiriman gambar via internet.
Studio : Lokasi khusus tempat pelaksanaan kerja produksi berlangsung. Dapat untuk melaksanakan syuting (shooting studio) maupun untuk editing (post production studio).
Sound Mixer : Mixer pengendali dari berbagai input suara yang dipilah melalui sejumlah jalur (track).
Slow Motion : Pergerakkan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan alur cerita.
Technical Director : Pengarah / Direktur tehnik.
Teleprompter : piranti didepan kamera yang membantu presenter membaca naskah.
Take : Istilah yang digunakan untuk dan pada saat pengambilan gambar berlangsung. Dapat juga digunakan sebagai catatan pada naskah.
Two Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada dua objek yang dituju.
Three Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada tiga objek yang dituju.
Theme Song : Lagu khusus yang diciptakan atau dipakai sebagai pendukungikatan emosi dari program acara kepada penonton.
Up Link : Proses Pengiriman gambar via satelit.
Under Exposed : Kondisi dimana pencahayaan kurang / lemah cenderung gelap.
VTR : Video Tape Recording.
Voice Over (VO) : Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita namun tidak tampak dilayar televisi.
Vision Mixer : Sebutan lain untuk istilah populer “switcher”.
Wireless Camera : Kamera yang menggunakan transmisi signal untuk mengirimkan hasil gambar tanpa menggunakan kabel.
White Balance : Prosedur untuk mengkoreksi warna gambar dari kamera dengan mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum cahaya. Umumnya prosedur ini menggunakan cahaya putih sebagai dasar.
Wardrobe : Berbagai aksesori pendukung kostum bagi peran – peran tertentu.
Posted on 19.09 by OMeN and filed under | 11 Comments »